Sabtu, 20 Desember 2014

Kata-Kata Musang

Beurgeur, 12:21 WIB

Kembali dosenku menyemburkan kata-kata usang
yang biasa ia gunakan untuk memperbudak kata-kata usang
lainnya


lalu kami mati, seperti musang.

Kamis, 18 Desember 2014

Surgeon

Kamar kosan, 02:49 WIB

Robeklah dadamu, kemudian ambil jantungmu
kunyahlah, perlahan-lahan saja
bagaimanakah rasanya di lidahmu?

sepertinya bagimu
menerka rasa pikiranku
lebih mudah barang tentu
daripada meminum sendiri darahmu.

Sekarang robeklah dadaku, kemudian renggut jantungku
kunyahlah, tidak perlu terburu-buru
maukah kau memberitahu padaku
rasa jantungku itu?

aku belum pernah tahu bagaimana bentuk jantungku.

Senin, 15 Desember 2014

Kata Pengantar

15 Desember 2014. 19:46 WIB.

Setelah membaca kata pengantar tiga buku yang saya pinjam tanpa sempat membaca isinya.

Kopi susu yang kau buatkan selalu mengantarkanku kepada
senja yang mengantarkanku
kepada malam
kepada diam
kepada pagar rumahmu yang dicat hitam.

Sayangnya, kata pengantar buku-bukumu gagal mengantarkanku pada pagar yang rapat mengelilingi dirimu.

Kita terpagar antara pengantar yang gagal mengantarkan kata-kata pengantar kita.

Minggu, 14 Desember 2014

Ide

Dalam kamar kosan, 23:46 WIB.

Aku percaya bahwa ide bersifat volatil. Ia selalu menguap sesaat setelah ia muncul.

Karenanya lah, jika ide muncul, ia harus segera diendapkan. Dalam blok-blok biner, dalam coretan di atas kertas, atau dalam smartphone. Namun bukan di dalam ingatan. Ide selalu menguap dengan mudah di dalam ingatan.

Ide tidak boleh menguap begitu saja. Ia terlalu berharga untuk dilewatkan.

Ego

14 Desember 2014. 01:24 WIB. Kamar kosan.

"This is the end
Hold your breath and count to ten
Feel the earth move and then
Hear my heart burst again..."

Aku benar-benar merasakan perubahan itu. Dunia yang dulu kukenal hanya hingga batas-batas kotaku mendadak bereksplosi dan berekspansi. Big Bang. Apa yang selalu kusebut batas dulu terdorong menjauh. Seberapa jauh? Hingga tidak hingga, hanya itu yang bisa kukatakan mengingat ketidaktahuanku akan ke mana batas itu sebenarnya menghilang. Aku mengenali ketidakterbatasan ini, namun aku tidak (akan pernah) memahami seluruhnya.

Lalu mendadak seluruhnya termampatkan. Dunia menyempit. Semua yang kukenali sebagai batas-batas itu mendekat. Dunia memampatkan dirinya dan hanya menyisakan ruang yang sangat sempit. Terlalu sempit, bahkan untuk diriku seorang. Batas-batas itu memerangkap.

Sebanyak apapun diskusi dilakukan, lirik ditulis, ode diciptakan, bahasan tentang ego selalu menjadi bahasan yang menarik. Dunia manusia yang ada saat ini berdiri di atas pondasi ego. Peradaban makan, minum, beristirahat, dan membela diri dengan didorong oleh egonya untuk bertahan hidup. Segala kejatuhan adalah ego yang tidak berhasil menuntaskan dirinya. Andai saja ia tertuntaskan, ialah yang berdiri. Berjaya. Manusia - semua keinginan, pikiran, ciptaan, semua yang membuat dirinya "ada" adalah ego-nya. Aku percaya semua manusia mengandung sekaligus terperangkap oleh egonya masing-masing. Demikian pula aku. Aku-pun selalu terperangkap dalam ego-ku.

Aku masihlah aku yang sama, aku saat mengenal dunia hanya sebatas kota tempat tinggalku. Aku masihlah aku yang suka menulis diiringi lagu-lagu (sebut saja mereka yang berjasa menemaniku: Black Sabbath, Muse, Foo Fighters, Keane, Melancholic Bitch, Adele, dan masih banyak lagi). Aku masih sering lupa mengerjakan tugas kuliah hingga J-min-sekian. Aku masih saja sulit menangkap harapan dan kekhawatiran yang entah ada dalam dunia yang tidak kukenal ini atau dalam kepalaku saja. Bahkan aku selalu kesulitan menuliskan semuanya dalam media blog ini sekalipun. Bagaimana aku bisa mengatakannya? Bagaimanapun, hingga saat ini egoku yang lapar masih belum mengetahui cara untuk melepaskan diri dan mencari penuntasan diri.

Apakah semua ego selalu seperti itu?

Minggu, 09 Maret 2014

Di Suatu Tengah Malam

Di hamparan beledu, purnama berpendar membundar
tidak tampak kawanan laron mengitarinya
tidak tampak pula jawaban yang sebenar-benarnya benar.

tidak juga kutemukan sepatah katapun untuk membanjur "terlanjur"


Bandung, 12 Februari 2014

Senin, 16 Desember 2013

Es Kelapa

Cuma pada kamu saja, aku bisa menemukan telaga dalam bola mata.

Kantin kampus yang biasa-biasa saja, embusan berdebu suatu siang yang biasa-biasa saja, dan pelarian yang seperti biasa.
Aku bolos kelas mekanika, dan kamu lari dari kuliah, apapun itu namanya, mengontrol opini manusia. Kembali kita menceburkan diri ke kenakalan yang sudah biasa itu. Namun siang ini, di kantin ini, tepat di antara cakap kita (juga di lengkung senyummu), semua yang biasa itu adalah segala.

Rambut ayumu sedikit berderai ditiup kerontang siang. Kantin sedang sepi ini siang.

Cukup kita berdua, ayo pesan es kelapa. Basahi hausmu, ciprati keringku. Kita lanjutkan tawa yang tertunda jam-jam tertidur di kelas. Kita teruskan tawa canda tentang beda dunia, beda fakultas. Susun rencana ke tempat petualangan yang tak mampu dijamah bis kota manapun, tempat rekaan cerita kita. Habisi kebosanan kita akan kelas dan hidup. Aku dan kamu. Pejamkan mata dan kitalah seisi sepi kantin siang itu. Kitalah dunia, kitalah semua canda dan cerita.

Tenang saja, di bolos siang ini kita tidak akan dicari dosen manapun, kawan mahasiswa siapapun. Ibu-ibu kantin pun tidak akan mencarimu. Es kelapa kita sudah kubayar lunas.

Di sana, di kedua bola matamu, ada telaga. Bersamamu kutuntaskan dahaga.
Yang kamu tahu siang ini tidak akan bisa dituntaskan dengan es kelapa manapun jua.



Frasa "telaga di bola mata" diilhami Melancholic Bitch - Dinding Propaganda. Terimakasih Melbi.
Bandung, 16 Desember 2013. Bukan di siang terik. Masih dini hari, hujan gerimis.