Kamis, 02 Februari 2017

V U L G A R: Sebentuk Kabaret Hiphop Vulgar a la Joe Million [Sebuah Bedah Album]


"V U L G A R"
Joe Million
Self-released, 2016
Produser: Senartogok
Beatmaker: Senartogok
Artwork: Senartogok


Berkali-kali mendengar album V U L G A R dari Joe Million (self released, 2016) tiap kali mengantar adik saya berangkat sekolah, saya merasa harus segera menulis ulasan album pertama MC jahat asal Jayapura ini, kalau perlu bedah albumnya. Alasannya sederhana: karena album ini memang keren! Tidak perlu merujuk fakta bahwa Morgue Vanguard menahbiskan album ini sebagai rilisan terbaik 2016 versinya, atau bahwa album ini beberapa kali diulas dengan positif dan disebut dalam list terbaik tahun 2016 walau baru berstatus sebagai pendatang baru. Tidak perlu susah-susah untuk mengamini bahwa V U L G A R adalah salah satu rilisan yang paling bergizi di penghujung tahun 2016: cukup putar dari awal ke akhir, dan biarkan rapping yang mulus, lirik yang puitik, jenius dan terkadang nakal, juga beat sampling-nya yang gahar membombardir genderang telinga Anda, habis-habisan.

Joe tidak lupa membawa serta diksi dan aksen Timurnya yang menjadi ciri khasnya dari dua EP sebelumnya (Enigmatik dan Million Cypher) ke dalam V U L G A R. Berbekal kearifan lokal tadi, rima dan flow Joe yang banyak dipengaruhi Eminem, Nas dan Kendrick Lamar lancar meluncur di atas beat-beat ciptaan beatsmith Senartogok, seniman kenamaan Bandung yang juga merangkap produser sekaligus art worker album ini. Seluruh beat dalam album ini sendiri sebenarnya sudah merupakan suatu kekayaan tersendiri.

Bayangkan, cakupan sampling yang berkisar dari Berlian Hutauruk sampai Sleep tak pelak juga ikut memperluas pengetahuan saya akan musik yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Hasilnya? Bum! Sebuah album hiphop yang membenamkan banyak rilisan hiphop 2016 lainnya. Kesucian V U L G A R sepertinya hanya dinodai oleh proses mixing yang kurang sempurna dan berakibat kurang terdengarnya kata-kata Joe di beberapa bagian. Beruntung, hal ini dapat diakali oleh adanya bundel lirik yang dapat diunduh bersama album ini secara bebas di situs ini atau dengan memesan deluxe version-nya melalui akun media sosial Senartogok.

Sepertinya panjang-panjang kata ini harus segera disudahi. Berbekal sedikit pengetahuan akan hiphop dan banyak kenekatan, saya akan membedah tiap track dalam album ini. Peringatan: segala resiko malpraktek akibat keasyikan mengkhusyuki V U L G A R tidak ditanggung oleh Penulis.

1.       Persetan (2:58)

Begitu tombol play ditekan, album ini dibuka dengan riff gitar clean yang cukup familiar di telinga saya. Rupa-rupanya Senartogok mengguntingi The Unforgiven III milik raksasa thrash metal Metallica untuk dijadikan sampel untuk track ini. Selama hampir tiga menit, dengan cuek Joe mengoceh menafikkan mereka yang hanya bisa sinis. Tidak main-main, bagi Joe orang-orang semacam itu seharusnya berada di daftar korban Bom Bali. Bagi saya, Persetan adalah sebuah jawaban slengean yang tepat atas segala bentuk sinisme, karena memang Joe sudah kadung menegaskan, “Kau yang ragu padaku, persetan omong kosong!”

2.       Koar Trotoar (2:14)

Bersanding dengan Persetan sebagai track kedua, saya justru merasa Koar Trotoar tampil kurang prima. Beat yang diangkat kurang distingtif serta cerita Joe (yang mungkin) tentang raung trotoar yang ia lewati di suatu malam terlalu sulit dipahami dan kurang kuat sebagai tema. Namun, bukan berarti Koar Trotoar sama sekali tidak layak dinikmati. Joe selalu rajin berbagi rima dengan pendengarnya dan beruntunglah rima yang Joe sajikan selalu penuh nutrisi dan dibalut motive flow yang cantik. Simak saja:

...Tolong tolong hentakku dari kolong-kolong langkahku
Kau olok-olok mengganguku seolah-olah mukaku
teramat borok dan jorok tak cermat kau lap kacamu..”

Cukup indah, bukan?

3.       Dalam Singgasana (2:13)

Saya sedikit menyesalkan fakta bahwa di album ini dua track yang menurut saya paling lemah harus diletakkan bersandingan di bagian awal album. Namun akhirnya saya mengerti, sepertinya kedua track yang saling berdampingan ini adalah sebuah tarikan nafas panjang sebelum menjejak jalangnya sisa lagu dalam V U L G A R. Di Dalam Singgasana, perayaan atas alam atas sadar yang tetap tenang dan sabar itu dirayakan lewat beat yang lebih tenang dan flow yang tetap terjaga: seolah mengajak siaga mengantisipasi apa yang akan terjadi setelah dua menit tigabelas detik lagu ini terlewati.

4.       Sejenak (0:36)

Sebagai interlude pertama album ini, Sejenak mengajak pendengar sejenak menyamakan ritme. Sambil ditingkahi tiupan instrumen a la Timur Tengah (yang mengingatkan saya pada Sen Trope milik Aziz yang acap diputar oleh kawan-kawan satu sekre), persepsi seolah disamakan dahulu sambil goyang kepala santai sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri album ini. Selow dulu lah.

5.       Si Miskin Omdonesia (3:31)

Baru terlepas dari interlude, saya langsung diajak melongo dengan keajaiban track satu ini. Harus jujur saya akui kalau Si Miskin Omdonesia merupakan track favorit saya dari banyak aspek. Pencurian sample dari Matahari-nya Berlian Hutauruk yang terdengar sendu terbukti efektif mengiringi “suara sumbang si spesial” Joe tentang sebuah negeri bernama Omdonesia. Negeri mana lagi itu? Sepertinya hanya Joe yang tahu. Yang jelas, Omdonesia selalu dipenuhi nyinyir apatis warga kepada pemimpin mereka, peristiwa kontroversial, dan yang paling penting—sampai-sampai Joe harus membahasnya dalam satu verse penuh—penjajahan bentuk baru juga kekerasan atas nama agama. Semua itu diceritakan Joe dengan pilihan kata yang bernas dan juga tegas. Hampir di penghujung lagu Joe berteriak:

“...Sibuk sengketa karena agama berbeda,
Apa Tripitaka, Alkitab, Quran, dan Weda
Akan membuat darah lebih berwarna merah...
...
...Apa ada Tuhan buat kau tak butuh papan,
Apa ada Tuhan buat kau tak butuh sandang,
Apa ada Tuhan buat kau tak butuh makan,
Ku tak butuh Tuhan jika buatku bunuh lawan!”

Sepertinya kondisi seperti itu cukup familiar bagi saya, hahaha. Sesekali suara tayangan berita bergemeresak  di sela-sela verse, mengabarkan kisah sendu Omdonesia. Kisah yang sukses membuat kagum sekaligus merenung dalam bentuk karya kelas satu ini. Tabik!

6.       Amin (1:47)

Bila saya yang disuruh memilih judul untuk track ini, bukan Amin yang akan saya pilih, melainkan “Anjing!”. Di atas riff terpuji milik Jimi Hendrix, Joe bersumpah atas nama Big Poppa, Nas, dan Tupac untuk kemudian ngebut meluncur 124 BPM sepanjang 42 bar non stop, sendirian, lalu mengajak pendengar beramai-ramai maju menggempur segala penindasan juga omong kosong, dan pada akhirnya meledak tanpa sisa. Kurang gila bagaimana lagi pace satu ini?

7.       Vulgar (3:23)

Sebuah title track yang ngeri, dengan beat yang mengingatkan saya pada scoring salah satu seri Avatar: The Last Airbender di mana Aang mengamuk dan membilas habis pasukan Negara Api dari kediaman Suku Air Utara. Isinya tidak kalah ngeri: pernyataan berani Joe sebagai seorang rapper yang siap memuntahkan “Rima yang bringas resiko meledakkan dendrit” kapan saja dan menggilas siapapun yang ada di hadapannya. Lengkap dengan narasi hidup-mati-bangkitnya Yesus di antara tiap verse, Vulgar pun sukses membuat saya merinding habis-habisan.

8.       Katamorgana (3:50)

Jika Amin saya sebut “anjing!”, maka tidak ada kata lain yang pantas untuk Katamorgana selain “kurangajar!”. Nomor braggadocio sombong ini kabarnya merupakan track favorit beatmaker Senartogok yang mengambil sample Eye Of The Tiger dari Survivor sebagai latar lagu ini (sebuah pilihan yang sangat tepat). Dalam aliran flow yang jenius, Joe dengan jumawa menampik Inul dan Dhani yang menyodorinya kontrak (“Karyaku makaku takkan jual sampai mati”). Ini terdengar sangat jumawa, bahkan apabila disandingkan dengan seluruh lagu Young Lex sekaligus. Namun, ogah jadi naif, Joe tetap berbagi nomor ponsel kalau-kalau akhirnya ia sampai kehabisan nasi. Lewat Katamorgana, Joe berhasil berbagi rasa percaya diri berlebih yang disampaikan dengan cara yang lucu dan ditutup dengan ocehan acak Joe yang apabila disimak baik-baik ternyata juga tidak kalah kocak.

9.       Candu (3:18)

Gulung aku dan bakar lalu hajar,
Karena ku kan hancurkan masalah yang datang menampar,
Asap memanjangkan sabar,
Asap menanggalkan sadar,
Asap mengajak menanjak ke atas menghadap Allah...”

Tidak perlu bersusah payah untuk menangkap apa yang Joe dan Rand Slam ingin sampaikan di lagu ini. Ya, di nomor chill ini Joe berbagi bar dengan Rand Slam, komradnya di kolektif Super Flava. Tidak tanggung-tanggung, Rand Slam menggasak duapertiga bagian dari keseluruhan verse. Berdua, mereka memainkan dadu, ular, dan tangga dan siap naik lebih “tinggi”. Ditingkahi beat yang mendukung suasana, Candu berhasil menjadi track paling dope nomor dua dalam album ini.

10.   Kolong (5:03)

Kembali berkolaborasi dengan Rand Slam, kali ini Joe meratap galau mengungkap kesendirian, ketakutan, dan pilunya diabaikan. Sample dari lagu Black milik Danger Mouse memperkuat kesan gamang yang hadir dalam track ini—gamang yang semakin memuncak segelap kolong ketika bersama Norah Jones Joe bernyanyi parau, “Until you travel to that place you can’t comeback, where the last pain is gone and all that’s left is black.” Menurut saya, Kolong adalah track paling introspektif dalam V U L G A R dan sukses memberi warna unik nan mencekam dalam album ini.

11.   Let My Blood Be A Seed Of Freedom (5:08)

Singkatnya, track ini adalah sebuah ode perjuangan dan pembebasan a la Joe Million. Tiap bait yang Joe bacakan seolah mengamini sabda Oscar Romero—uskup masyhur pencetus Teologi Pembebasan itu—yang melantun via The Project dan di-sampling dengan sempurna menjadi reff yang sama membiusnya dengan flow Joe di lagu ini, serta menjadi judul track ini. Jika kita membicarakan Joe, pembebasan yang ia maksud tentunya hadir dalam bentuk rap dibalut rima dan flow memukau yang menghunjam tepat di ulu hati. Testamen yang sukses mengantar pendengar menuju klimaks menikmati Joe Million.

12.   Terbawa x Peluru (1:53)

Hanya ada satu penyebab Candu gagal menjadi track paling “tinggi” di V U L G A R: interlude 1 menit 53 detik ini. Sekarang, bagaimana cara mengalahkan beat sampling singkat, lambat, dan berat khas musik psikedelik macam Tame Impala (jika tidak boleh disamakan dengan Om atau Sunn O))) ) yang digagahi oleh racau diperlambat Joe ini? Jawabannya: tidak ada kemabukan lain yang dapat mengalahkan kemabukan macam Terbawa x Peluru. Belum sempat bertele-tele terlalu lama... DOR! Tiba-tiba saja lagu ini berhenti, seolah dikandaskan dari jauh oleh seorang penembak jitu. Dan ungkapan Joe di akhir: layaknya Chairil Anwar membawa lari luka dan bisa, akan ia bawa peluru di kepalanya untuk merajut seribu mimpinya. Inilah puncak yang sempurna untuk kabaret hiphop vulgar a la Joe Million ini.

13.   Menunda Mati (2:56)


Jika Anda menyangka semua ini sudah berakhir, Anda salah besar. Walau sudah berhasil memuncak dengan luar biasa di Terbawa x Peluru, Joe memilih menunda berakhirnya album ini untuk berbagi mikrofon dengan Senartogok dalam Menunda Mati. Mungkin track ini adalah sebuah pendinginan yang melegakan namun tetap tegas. Setelah Joe dengan sempurna mengamuk dan melempar Nuh dan Sangkuriang—lengkap bersama perahu mereka—ke Puncak Himalaya, Senartogok menyahut dengan aliran, lebih tepatnya rentetan kata-kata a la Homicide, menembaki segala arah dan menumbangkan semua, mulai dari Dostoyevski sampai Ahok tanpa sisa. Sampling lagu ini juga menggarisbawahi kedigdayaan beatmaking Senartogok. Dengan sample dari Dragonaut milik Sleep, Senartogok sukses meramu beat dengan beberapa break cerdas di sana-sini berbumbu sesekali permainan bassline Tame Impala yang sangat klop dengan keseluruhan verse dalam Menunda Mati. Lagu ini seolah merupakan tanda terima kasih Joe untuk Senartogok dan sekaligus menjadi sebuah pernyataan tegas darinya: hidup adalah sebuah arena raksasa untuk terus berkarya, walau harus mati-matian menunda mati. Apakah penundaan kematian Joe ini nantinya mampu membuahkan karya lain yang paling tidak setara, atau mungkin lebih baik dari album luar biasa ini? Kita tunggu saja.

Kamis, 17 November 2016

[Sebuah Pengantar] Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala: Jejak Jihad Seorang Ikhwan

Saat saya membaca calon judul kumpulan cerpen ini, rasa penasaran menghampiri kedua belah otak saya. Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala. Saya berpikir, dari pengajian manakah Asra Wijaya memperoleh judul ini? Judul empat kata ini sekilas terdengar sangat islami. Namun saya agak kesulitan menangkap maksud utuh dari judul ini. Setelah saya konfirmasikan kepada Asra, ternyata saya cukup mengambil huruf pertama dari tiap-tiap kata judul itu untuk memahami maksud judul itu. Rupanya, melalui singkatan judul itu Asra hendak “memperkenalkan dirinya” dengan tipe kepribadian Myers-Briggs yang dia miliki :INFP. Tipe kepribadian yang acap saya temui pada kawan-kawan sesama penulis. Tipikal manusia penuh mimpi yang selalu tertarik dengan ide-ide besar. Memang demikianlah Asra. Ia selalu tertarik dengan keindahan dunia sastra dan narasi-narasi besar tentang kehidupan yang terkandung di dalamnya.
Setelah berhasil bersabar menelisik lebih dalam makna per katanya, saya menemukan bahwa ternyata judul ini lebih dari sekedar perkenalan seorang Asra Wijaya secara umum. Melalui judul ini, Asra juga hendak memperkenalkan sebuah fase kehidupan yang telah ia lewati. Lebih tepatnya, sebuah fase yang ditutup oleh penulisan cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini: seorang ikhwan yang selalu mendedikasikan segenap pikiran dan perbuatanya untuk mencari pahala dari Tuhan.
Judul ini juga menggambarkan bagaimana Asra seolah hendak melakukan otokritik terhadap semua batasan yang ia pegang teguh sebelumnya, yang tergambarkan dengan sangat baik melalui tiap cerita dalam kumpulan ini. Hidup di kalangan yang cukup religius dan mengenyam pendidikan di sekolah menengah semi-pesantren, Asra tumbuh menjadi sesosok pemuda agamis yang rajin mencari pahala, lengkap dengan batasan-batasan agama yang ia pelajari dari keluarga, guru-guru, dan kakak-kakak mentornya.
Asra pada masa itu mengambil posisi yang cukup tegas dalam memandang hidup. Posisi yang tegas ini jelas berasal dari pemahaman pribadi Asra terhadap agama Islam. Ini bertahan kira-kira hingga setahun lalu, saat Asra semakin dalam berkenalan dengan betapa beragamnya manusia selama ia berkuliah di Bandung. Perkenalan ini juga dibarengi oleh sebuah kesadaran, atau lebih tepatnya keresahan, yang Asra alami. Pada suatu titik, Asra menyadari bahwa selama duapuluh tiga tahun kehidupannya ia merasa sudah terlalu banyak menelan kekalahan. Pengalaman dan kekalahan yang telah Asra rasakan ini membuatnya mulai merenungkan bahwa pada akhirnya kebaikan dalam hidup tidak dapat melulu dinilai dengan seberapa banyak pahala yang ia kumpulkan. Bagai katak yang keluar dari tempurungnya, Asra mulai bersentuhan dengan dunia dan dimensi-dimensinya yang sangat luas, yang ke depannya memunculkan lebih banyak perenungan tentang hidup. Asra, seorang ikhwan yang pada awalnya sekedar mendamba pahala, akhirnya dihadapkan dengan masa-masa penuh konflik batin dan perenungan tentang kehidupannya.
Fase Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala mungkin memang sudah dilewati oleh Asra. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan dan pemikiran Asra di masa itu sangat mempengaruhi kepenulisan Asra saat itu dan ke depannya. Demikian pula kekalahan-kekalahan yang mulai secara samar ia rasakan: seluruhnya mengendap dan teramu dengan baik menjadi kumpulan cerpen ini.

***

Asra Wijaya sudah bergelut cukup lama di dunia sastra dan literasi. Semenjak SMP, Asra sudah biasa membaca majalah sastra Horison dan karya-karya sastra lainnya, di samping menulis sajak-sajak lepas yang beberapa di antaranya pernah dimuat oleh koran lokal. Beberapa karya awalnya terkumpul dalam antologi Sajak-Sajak Luka yang ia terbitkan secara swadaya di penghujung masa SMA-nya dan disebarkan sebanyak sepuluh eksempelar kepada kawan-kawan dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesianya. Sebenarnya, dibandingkan dengan bentuk-bentuk sastra lainnya, Asra lebih akrab dengan puisi. Hal itu ditunjukkan oleh Asra dengan antologi-antologi yang terbit setelahnya, Wasiat (2015) dan AH (2015), yang memuat puisi-puisi Asra medio 2009 sampai 2015, juga sajak-sajak lepasnya yang lain. Walau demikian, Asra juga berusaha mengakrabi tulisan dalam bentuk cerpen. Cerpen yang sudah ditulis oleh Asra dapat dibaca dalam kumpulan ini dan kumpulan lain berjudul Pungutan Ingatan yang akan terbit bersamaan dengan buku ini.
Berbeda dengan Pungutan Ingatan yang seluruh isinya dibuat pada tahun 2016, Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala kebanyakan memuat cerita-cerita yang ditulis antara tahun 2011 dan 2012, kecuali cerita tambahan “Iwan dan Keluarga Kebunnya” yang ditulis Asra pada 2015 sebagai cerita bersambung di laman Facebooknya. Membandingkan kedua era kepenulisan ini, kita dapat melihat perkembangan Asra dalam menulis cerita pendek, mulai dari teknik, topik yang diangkat, hingga penokohan dan konflik cerita. Dibandingkan dengan Pungutan Ingatan, Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala memuat topik yang belum terlalu beragam: berputar-putar antara hubungan dengan keluarga (seperti pada cerita “Sepeda Sore” dan “Cinta di Sekotak Kurma Tunisia”), teman (“Hukuman Alfa”, “Pengen Hidup Seratus Persen Aja”), kehidupan asmara (“Payung Biru, Kamera, dan Lelaki Biola”, “Tujuh Hari Penasaran Tigaperempat Mati”), atau perpaduan dari topik-topik tadi (“Salah Paham”, “Aku Diculik, Bang!”). Pemilihan topik tadi tidak terlepas dari gaya bercerita Asra yang cenderung bersifat recounting. Apa yang Asra tulis dalam kumpulan ini tidak pernah terlepas dari apa yang ia alami sehari-hari. Asra sendiri mengakui bahwa kebanyakan cerita yang ia tulis terinspirasi dari pengalamannya dengan keluarga, kawan-kawan, juga hubungan asmaranya.
Tentunya, terdapat masalah utama yang mengemuka dari topik-topik tersebut. Permasalahan-permasalahan pada cerita-cerita ini dikupas dengan pisau yang cenderung normatif dan bersifat monokromatik, di mana Asra membedakan secara tegas sesuatu yang dinilai baik dengan yang buruk dan menghadapkan keduanya secara frontal. Hal ini sangat terlihat misalnya pada cerita “Cinta Hakiki?”, di mana diperoleh kesimpulan akhir dari nasehat ayah Anton yang menyimpulkan, “...jangan sampai kalian kehilangan cinta kalian. Cintailah keluarga kita ini. Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka, begitu kata Tuhan dalam Al-Qur’an. Cintailah sesuatu yang halal dengan cara yang halal, niscaya kemudian Allah akan membimbing kalian menemukan cinta yang sesungguhnya.” Dari kesimpulan ini, terlihatlah posisi moral yang diambil Asra dalam menyampaikan isi ceritanya. Pola-pola penyimpulan seperti ini juga acap dijumpai pada cerita-cerita lainnya dalam buku ini. Metode dan posisi moral seperti itu tidak lepas dari bahan bacaan Asra di waktu itu, seperti tulisan-tulisan Habiburrahman El-Shirazy, Tere Liye, dan Salim A. Fillah, yang juga acap menyampaikan cerita secara normatif dan monokromatik dari sudut pandang Islam.
Seperti yang telah disebut di atas, Asra gemar menyampaikan cerita secara recounting tanpa terlalu banyak mengkreasi plot-plot tambahan yang melenceng terlalu jauh dari apa yang ia alami sendiri. Selain pengalaman-pengalaman yang bersifat menyenangkan atau inspiratif, Asra juga tak segan menyampaikan suasana canggung yang ia rasakan (sebuah bentuk kekalahan?) dalam cerita-ceritanya. Salah satu contoh yang gamblang terlihat pada cerita “Penyair, Pemalu, Pencemburu”. Pada cerita ini, Ahbab, sang tokoh utama, digambarkan mengalami kegagalan dalam urusan asmara dan mengalami kecanggungan yang tak tertahankan saat bergaul dengan kawan-kawannya di sekolah. Contoh lain tampak pula pada cerita “Salah Paham”, saat dengan canggungnya Andi mengajak Shalika menikah untuk menghindari pacaran, padahal mereka berdua baru bersekolah di bangku SMA. Seperti kebanyakan cerita lainnya, kedua cerita ini diselesaikan dengan langkah yang cenderung monokromatik. Pada kisah Ahbab, ia dikisahkan bertemu dengan seorang “wali” yang menasehati dia untuk meningkatkan kualitas dirinya, karena “...perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik...”, juga menyuruh berhati-hati agar cintanya tidak bercampur dengan nafsu. Sedangkan untuk Andi, dalam cerita ia digambarkan berhasil menyelesaikan masalahnya berkat bantuan dan nasehat dari kawan-kawan serta orang tua-orang tua yang bijak.
Hingga titik ini, makin terlihat bagaimana Asra memandang masalah-masalah yang terjadi sehari-hari di sekitarnya sesuai dengan posisi moral yang diambil Asra pada waktu itu. Namun dalam kumpulan ini juga ditemui beberapa cerita yang mulai menunjukkan pergeseran pandangan Asra, di mana dia mulai sedikit menjauhi pandangan monokromatik yang menjadi ciri utama Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala. Cerita “Salah Paham” sendiri juga mulai menunjukkan bahwa pandangan kaku seorang Andi terhadap hubungan pria-wanita dapat membawanya pada kesulitan. Selain itu, kisah “Balada Pil Pintar 119” juga menunjukkan bahwa untuk memperoleh hasil yang maksimal tidak hanya dibutuhkan kejujuran—seperti yang berkali-kali ditekankan oleh Iwin dalam cerita itu—namun juga kerja keras menuju apa yang diharapkan tersebut. Secara per se, kedua cerita tadi memang terlihat monokromatik. Namun apabila disandingkan dengan cerita-cerita lainnya, kedua cerita ini memperkaya sudut pandang moral yang diambil oleh Asra dalam Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala. Kedua cerita ini pada akhirnya juga menonjolkan dimensi otokritik yang dikandung Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala terhadap pandangan monokromatik yang sebelumnya dipegang teguh oleh Asra.
Dari segi teknik, dalam kumpulan cerpen ini Asra beberapa kali melakukan eksperimen dengan plot twist, seperti pada “Penyair, Pemalu, Pencemburu”, “Dalam Kerangka”, “Ada yang Tidak Bisa Dikopi?”, “Hukuman Alfa”, dan masih banyak yang lainnya. Dapat dilihat bahwa di sini Asra terinspirasi dari berbagai karya yang menggunakan teknik-teknik sejenis. Malahan, sangat terlihat bahwa alur bolak-balik yang digunakan pada cerita “Dalam Kerangka” dan “Ada yang Tidak Bisa Dikopi?” sangat terinspirasi oleh Memento Mori (2001) karya Jonathan Nolan yang selanjutnya diadaptasi dalam film Memento pada tahun yang sama oleh Christopher Nolan. Sayangnya, masih terdapat banyak plot hole dan kurang sinkronnya alur yang beberapa kali ditemui pada beberapa cerita. Eksperimentasi yang dilakukan Asra dalam Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala ini memang belum dapat dikatakan matang, terlebih mengingat kurangnya jam terbang Asra dengan cerpen apabila dibandingkan dengan puisi.
Ada yang menarik dari seri penutup kumpulan cerpen ini, “Iwan dan Keluarga Kebunnya”. Pada cerita yang relatif lebih baru dibandingkan dengan cerita-cerita lainnya ini, Asra menggunakan teknik figuratif dengan melakukan personifikasi terhadap objek-objek alamiah dalam cerita. Dalam seri ini, objek-objek tadi digambarkan bermonolog menyampaikan nasib mereka di bawah “rezim” manusia yang mengeksploitasi mereka kepada pembaca dengan sangat terang. Teknik figuratif ini seolah merupakan perpanjangan tangan dari kemampuan Asra mengolah bahasa puitik dan menggali keindahan dari dalamnya. Tema yang diambil pun juga agak berbeda dibandingkan dengan cerita-cerita sebelumnya. Walau pada awalnya masih berkutat pada tema keluarga, permasalahan dalam cerita ini mulai berani merembet ke ranah konflik manusia dengan lingkungannya. Saat menulis cerita ini sebagai cerita bersambung, kebetulan Asra juga mulai mendalami masalah ekofenomenologi. Di saat itu, Asra sepertinya terpengaruh oleh tulisan-tulisan karya Saras Dewi dan lagu-lagu Sisir Tanah yang banyak membicarakan permasalahan ekofenomenologi dan relasi antara manusia dengan lingkungan tempatnya tinggal. Pada akhirnya, sebagai penutup, cerpen berseri ini—juga cerpen-cerpen lainnya—menunjukkan bahwa seorang penulis memang tidak akan pernah lepas dari kondisi sekitar yang ia geluti. Tinggal bagaimana kepekaan penulis tadi terhadap kondisi-kondisi itu dan mengolahnya menjadi karya-karya yang bermutu.

***

Asra sendiri pun mengakui bahwa masih banyak kekurangan di sana-sini dalam cerita-cerita di buku ini. Walau demikian, saya tidak merasa bahwa pengumpulan cerpen-cerpen dalam Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala ini kehilangan manfaatnya begitu saja. Dalam kumpulan cerpen ini dapat dijumpai pandangan-pandangan dan gaya kepenulisan yang khas dari Asra di masa-masa penulisan ke-20+1 cerita ini. Ikhwan Nan Fikrahnya Pahala pun menjadi dokumentasi yang representatif bagi jejak-jejak kepenulisan Asra medio 2011-2012 (+2015) dalam menulis cerpen. Gaya kepenulisan Asra mungkin mengalami pergeseran. Ikhwan yang keras berjihadmenggeluti dunia pemikiran, literasi, dan sastra ini memang tidak mengharamkan pacaran lagi, seperti yang acap ia lakukan via cerpen-cerpennya. Namun, bukankan manusia memang selalu akrab dengan perubahan? Johann Wolfgang von Goethe pernah menyebutkan, “yang lalu biarlah berlalu, kematian ada di setiap kata-kata”. Bagi saya, perubahan yang terjadi pada manusia adalah sebuah kematian yang diikuti oleh lahirnya sosok baru dari manusia itu. Proses dokumentasi dari kematian tadi dilakukan tidak hanya sebagai obituari yang layak baginya, namun juga sebagai cermin yang jernih bagi diri sendiri untuk mempersiapkan diri menyambut perubahan-perubahan selanjutnya.

Bandung, 3-4 November 2016
Rilis Eka Perkasa
Pengamat Lalat Yang Terperangkap Dalam Segelas Es Jeruk

ISH Tiang Bendera ITB

Senin, 12 September 2016

Takbiran

Pengelana kapiran,
ayo kita takbiran!

paksa Ia jawab
ini sunyi tanpa akhiran!

Bandung, 2016

Jumat, 09 September 2016

Merah Mawar

Apa maumu, hai bunga mawar?
Merahmu menggelora bara jiwa
sementara dedurian menatap nanar.

Pada jeda mahkotamu
kujumpai hati punya banyak sisi.

Di puncak hatiku asmara mekar
di sanalah luka menancap mengakar
di lembah aku melangkah tertatih
kehendak ingin menggapai tangkai
parasmu bagi haus penawar
sukmamu pelipur hati yang letih.

Tak kunjung kujumpa jalan
pun setapak menuju hatimu
menuju jurang tak berdasar.
Menggapai wangimu
langkahku nyasar
mencapai merahmu
pandangku berdarah.

Di dasar jurang hatiku
kaugoreskan nestapa
serupa darah, sewarna mawar.

Apa maumu, wahai sekuntum mawar?

Bandung, 2016
Reinterpretasi dari Puisi Johann Wolfgang van Goethe yang berjudul Heidenröslein dan lirik lagu Rammstein dengan judul Rosenrot.

Rabu, 31 Agustus 2016

Percakapan Di Tepi Pantai

Untuk H

di atas pasir kau berdiri tegak
bersama angin hamburkan tatap malu-malu
darahku berdesir, seperti laut di bawah kakiku

mati telah segala langkah
lantak luluh dihajar ombak
laut di bawahku terban
hanya bergayut gelakmu, aku mabuk

aku rindu ombak
aku rindu mabuk
aku rindu laut

aku rindu pantai
juga dirimu. senyum merinai.

hujan jatuh di tepi pantai.

Bandung, 2016

Senin, 29 Agustus 2016

Invictus

Dalam saput kelam malam
hanya hitam dari awal ke ujung.
Terima kasih! Siapapun Kau entah
atas jiwaku yang tiada terjajah

dalam cengkeram keadaan:
gidik tangis aku tak akan.
Dihajar kesempatan:
sirah berdarah, namun tunduk tak akan.

Di atas loka murka dan duka
samar ngeri bayang menghitam.
Wahai Kala yang mengancam!
Lihat, dan lihatlah! Aku tak gentar.

Tak acuh sempit pintu terbuka
tak peduli deras dera kuterima.
Akulah tuan bagi takdirku
Akulah nahkoda dalam sukmaku.

William Ernest Henley
Diterjemahkan secara bebas oleh Rilis Eka Perkasa

Senin, 15 Agustus 2016

Badai

Untuk Haris dan Asra

Haris pada perahu
Rilis pada laut
Asra pada tiang-tiang layar.

Wajah-wajah kelabu tidak menahu
pada lautan kita kuat berpagut
pada nasib lah harga akan kita bayar.

Gurat garis emas buyar
di air berserak hitam
hitam
kelabu
serupa wajahku.

Ahoi! Badai di depan menghadang
centang perenang, pasang menerjang
hari kemarin terbuang sayang
digumul samudera membandang.

Berenang.

Berenanglah! Jangan peduli apa!
Hidup adalah pasang taruhan
antara menang dan kematian
sinar senja mengelindan topan
Di permukaan, makna-makna berserakan
sekejap dilamun ditelan gelombang.

Tiada kapal tempat menjejak
Tiada hari untuk berpijak
kapal perahu kandas. Karam telak.

“Ris! Sra!” Berseru daku
“Cari kayu buat pegangan.
Jangan tenggelam. Jangan tersesat
dalam kembaraan.
Ini jagad lekas terban!”

dan kita hanyut
bersama puing-puing waktu.

Bandung, 14-15 Agustus 2016