Jumat, 22 April 2016

Catatan Berupa Keluhan

Pekerjaan menulis draft Tugas Akhir memang melelahkan, terlebih apabila:
1. Terkadang kau harus menulis hal yang sama berulang-ulang (Aku harus menjelaskan perbedaan sifat-sifat logam, polimer, keramik, dan komposit di beberapa subbabku)
2. Tidak ada kawan yang bisa tiap hari kauajak bicara, yang apabila kau berbicara dengannya akan selalu muncul kesan "wah, dia senasib sama aku". Hahaha.

Aku rindu menulis apapun selain draft Tugas Akhir ini. Sepertinya itulah caraku melepas lelah. Sayangnya, saat ini sepertinya aku harus mengikhlaskan dua sumber daya yang penting untuk menulis "apapun selain draft Tugas Akhir": waktu dan ide. Ke mana mereka pergi? Sepertinya kau tidak perlu menanyakan itu lagi. Tanpa keduanya, seisi dunia seperti terlalu sempit bahkan sekedar untuk selonjoran melepas lelah.

Sementara demikian, biarkan keluhan ini mengisi celah dan menggumamkan lelah.

Aku tidak mampu muluk-muluk menulis motivasi untukku atau kau-kau sekalian yang mungkin juga menghadapi kesibukan senada. Ini melelahkan, menghimpit, no shit. Karena itulah aku harus menyelesaikannya. Semakin kudiamkan, waktu dan ide, ah, juga perasaan, akan semakin terjepit dan aku harus semakin banyak mengikhlaskan mereka. Aku mungkin masih mampu bersabar, namun mengikhlaskan lebih banyak waktu, ide, dan perasaan sama sekali bukan hal yang menyenangkan.


Bandung, 22 April 2016

Rabu, 06 April 2016

Catatan Kanak-Kanak Yang Menua

Kebetulan kemarin aku berulang tahun. Menjelang petang, seorang kawan mengirim chat lewat Line kepadaku,

"Ambu-ambune onok sing menua iki" ("Bau-baunya ada yang menua nih")

Aku hanya bisa cengengesan dan menyeletuk bahwa setiap detik semua orang toh mengalami proses penuaan. Tidak perlu menantikan suatu tanggal ulang tahun untuk menyatakan bahwa dirimu menua. Tanggal-tanggal itupun tinggallah sebuah artefak penanda zaman yang dibuat orang agar masa lalu tidak meninggalkannya. Mungkin tidak mengapa sejenak mengamati keindahan artefak itu  senyam senyum menerima ucapan selamat dari beberapa kawan sambil berharap tahun depan akan lebih baik, namun bagaimanapun waktu dan kehidupan seseorang terus berjalan secara kontinyu, bukannya diskret. Berhenti pada suatu titik diskret, tidak peduli apakah itu karena kau merasa keenakan di titik itu atau takut melangkah lebih jauh, berarti sebuah dekadensi. Hidupmu mandek sampai di situ saja.

Mundur beberapa jam di siang harinya, aku mengobrol dengan seorang kawan yang menggeluti filsafat Nietzsche dan rutin mengadakan "kelas filsafat" di tongkrongan kami. Aku tidak akan panjang lebar berbicara mengenai filsafatnya karena aku memang tidak begitu memahaminya, yang aku ingat adalah menurut Nietzsche dalam buku Zarathustra, tahap akhir dari tiga tahap metamorfosis seseorang adalah tahap yang digambarkan sebagai tahap "kanak-kanak". Baginya, seorang anak selalu mengambil tindakan dengan dilandasi oleh kejujuran, tanpa adanya pretensi apapun yang membatasi, bahkan terhadap dirinya sendiri. Pada titik ekstrem bahkan sudah melampaui nilai-nilai baik-buruk. Hanya ada kejujuran dan kepolosan. Si anak ini mungkin akan sedih saat mengalami suatu kemalangan, tapi apabila si anak ini adalah kanak-kanak sejati, dia tentu akan melupakan kesedihannya dan menuruti insting penjelajah kanak-kanaknya. Pandangan seperti ini buatku jauh lebih menyegarkan daripada pandanganku sebelumnya tentang pemikiran Nietzsche yang selalu terlihat vital, gagah, adikuasa, atau bahkan bengis. Seorang anak dapat dengan polosnya beristirahat dari penjelajahannya  dengan dalih kelelahan, ngambek, atau apapun. Mana bisa seorang Singa-Alfa-Nietzschean yang harus selalu garang bersikap seperti ini?

Alegori seorang anak yang lugu tanpa pretensi ini menyentilku, kalau tidak boleh dibilang menjewer dengan ganasnya. Kontinuitas hidup acap diganggu pretensi alias sikap berpura-pura. Kejujuran diri kalah oleh anggapan umum. Namun lebih celaka lagi apabila pretensi itu dilakukan di hadapan diri sendiri. Perasaan malu menerima kekurangan diri, atau malah enggan menerima perasaan-perasaan seperti kemarahan dan kesedihan justru lebih samar dibandingkan rasa malu di hadapan khalayak. Inilah yang menyebabkan pretensi di hadapan diri sendiri bagi beberapa orang justru lebih membunuh. Orang-orang ini membunuh dirinya di hadapan arca ideal dirnya yang mereka bangun sendiri tanpa sedikitpun ingin memafhumi, semua hal (yang selalu disebut) negatif itu manusiawi. Memang terdengar klise, tapi tidak ada seorang pun yang sempurna. Pun arca sempurna yang terbuat dari blok-blok ekspektasi dan paranoia itu.

Aku menarik persoalan pada diriku sendiri. Belum lama sejak aku akhirnya bisa menerima diriku sebagai aku yang mikiran. Aku sadar, mungkin hanya sepuluh persen pikiran dan ketakutanku yang berhasil menjelma menjadi kenyataan. Sialnya, kesadaran itu masih saja dibarengi oleh membuncahnya kekhawatiran bahwa aku tidak cukup baik untuk apapun.

Gambaran yang dibangun megah oleh kekhawatiranku justru menyebabkanku berpura-pura dan hendak mencapai sesuatu yang aku sadar tidak akan bisa dengan mudahnya kugapai, malah beberapa sebenarnya tidak ingin kugapai sama sekali. Mau contoh? Baca saja tulisan ini. Mungkin Pembaca sekalian bisa merasakan keringnya tulisanku seperti sebuah jurnal ilmiah, atau malah lebih tandus lagi. Bahasannya pun mungkin tidak terlalu intelek dibandingkan dengan tulisan kawan-kawan yang sudah biasa menulis. Padahal aku berharap tulisan ini dapat lebih hidup dibaca dan lebih... berbobot, di kacamataku. Hampir aku berpretensi dengan berusaha menulis sari pikiran Nietzsche tentang ubermensch yang sebenarnya aku benar-benar paham saja tidak. Aku berusaha ndakik, namun gagal. Paragraf ubermensch-ku amburadul. Hasrat menulis lepas pun sudah lama keok di hadapan kesibukan mahasiswa tingkat akhir yang terlalu banyak membaca dan menulis tulisan saintifik. Gaya bahasaku yang sejak semula kaku pun jadi lebih kaku lagi. Aku rasa tulisan-tulisanku sebelumnya juga terserang penyakit berpura-pura ini. Akhirnya, kuputuskan: kali ini kucoba menerima kekurangan-kekurangan tadi, dan pengakuan adalah cara yang paling efektif bagiku untuk menerima kenyataan. Perasaan tidak puas boleh saja muncul, namun bukan untuk menggelayuti proses berkarya, melainkan menyempurnakannya.

Namun seberapa besar hati seseorang untuk menerima kenyataan-kenyataan lain yang lebih besar dan pahit? Seberapa jauh batas kesabaran mengizinkannya berbuat lugu menerima apa yang ia punya? Aku takkan tahu jawabannya sebelum menjelajah kontinuum kehidupanku lebih lanjut. Pada akhirnya aku hanya berharap sisi kanak-kanakku mendapat lebih banyak ruang dalam kesadaranku dan mengalahkan kerasnya hati dan arca-arca megah ekspektasi yang belum sepenuhnya runtuh.


Bandung, 2016

Minggu, 03 Januari 2016

Kebahagiaan di Bantaran Cikapundung (Sebuah catatan tentang taman, penggusuran, rumah, dan kebahagiaan)

Siang itu saya menuju daerah Ciroyom dengan angkutan kota hijau-oranye Caheum-Ciroyom. Saat melewati daerah Babakan Siliwangi, tepatnya di jembatan setelah Sabuga, pandangan saya tertuju ke keramaian di kanan jembatan, di bantaran Sungai Cikapundung.

“Jembatan merah, jembatan merah...” ujar aa’ supir angkot.

Tentu yang dia maksud bukan Jembatan Merah di Surabaya. Angkot yang saya naiki melewati tempat dengan papan nama ”Teras Cikapundung” yang sepertinya merupakan salah satu “taman cantik” di kota Bandung yang dibangun di masa jabatan Ridwan Kamil alias Kang Emil itu. Yah, sekarang saya tidak tahu banyak mengenai tempat-tempat “hits” baru di kota ini. Maklum, mahasiswa tingkat akhir. Harus jadi tikus di lab pengap yang penuh bau uap kloroform dan zat-zat berbahaya lainnya. Saya pun berpikir, “Jadi ini, ruang publik di bibir Sungai Cikapundung yang mengorbankan salah satu kampung di tepi sungai ini?” merujuk tulisan seorang kawan yang sempat membicarakan masalah ini.

Belum lepas dari ingatan, pemandangan di tempat itu sekitar tiga bulan yang lalu. Kampung di bantaran sungai yang biasa saya lihat sekilas apabila menuju arah Ciumbuleuit itu tinggal puing. Di tengah puing itu, ekskavator berwarna hijau toska berdiri dengan gagahnya. Sekarang, tempat itu sudah berubah menjadi taman (saya tidak salah sebut, kan?) di tepi sungai. “Jembatan merah” yang tadi disebut si aa’ melintang di atas sungai, di tengah taman itu. Kanan-kiri jalan dipenuhi oleh parkiran motor, entah liar atau tidak. Pedagang cilok, balon, dan batagor memenuhi tempat itu. Mungkin, minus parkiran dan pedagang yang menjamur di tempat itu, Pemerintah sepertinya berambisi membuat bantaran Sungai Cikapundung seperti bantaran Sungai Seine di Paris yang terkenal cantik itu.


Taman "Seine" Teras Cikapundung. Maaf, kamera saya tidak sebagus itu.

Flashback ingatan sekilas tiap naik motor lewat daerah itu, ingatan tiga bulanan lalu hingga apa yang saya lihat tadi siang membuat saya berpikir – bukan dengan pikiran ahli tata kota, sosiolog, psikolog masyarakat, aktivis, atau malah filsuf. Saya berpikir dari sudut pandang orang yang kebetulan lewat daerah itu. Belum lepas juga dari ingatan saya tentang pernyataan Kang Emil sebagai walikota yang ingin meningkatkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung. Salah satunya dengan membuat banyak “taman cantik” di sekujur kota ini, salah satunya Teras Cikapundung ini. Okelah, membuat taman. Mungkin sebagian warga kota akan berbahagia dengan taman-taman yang dibangun ini. Tapi bagaimana dengan mereka yang kampungnya digusur? Apakah mereka bahagia dengan adanya Teras Cikapundung ini? Pemenuhan indeks kebahagiaan melalui taman ini diikuti dengan hilangnya tempat tinggal sebagian warga kota yang ingin ditingkatkan indeks kebahagiaannya itu, dan saya kesulitan melogika bahwa warga yang dipaksa pergi dari tempat tinggalnya akan merasa bahagia, atau paling tidak tersembuhkan kesedihannya dengan Teras Cikapundung. Ironis.

Betapa mudahnya, sekelompok orang (baca: elit) mengatur kehidupan seseorang, bahkan menentukan di mana sekelompok orang lainnya harus melanjutkan hidup setelah dipaksa pindah akibat agenda kelompok yang disebut di awal. Memang, setelah digusur saya dengar warga kampung itu direlokasi ke rumah susun di daerah Sadang Serang. Namun saya rasa permasalahan tempat tinggal ini tidak sesederhana itu. Warga kampung yang sudah menetap di sana puluhan tahun lamanya tentu sudah memiliki keterikatan dengan tempat itu. Tidak hanya masalah administrasi, pekerjaan, maupun tempat berteduh belaka. Rumah juga berarti identitas, tempat pulang, dan tempat segala ingatan yang pernah dilewatkan di rumah itu ditinggalkan. Dan kampung yang digusur itu saya rasa tentu adalah rumah bagi para (mantan) penghuninya. Pemikiran seperti ini membuat saya menganggap penggusuran dan pemindahan paksa ini adalah masalah serius. Atau sebenarnya tidak seserius itu? Bagi pembaca yang merasa pemikiran saya kurang tepat, beritahu saja saya.

Jika memang kegelisahan saya benar, maka masalah penggusuran bantaran Sungai Cikapundung ini adalah potret kecil tentang pembangunan negeri ini. Apakah ada kompensasi yang setimpal untuk mereka yang menjadi korban pembangunan? Bahkan apabila ditarik lebih jauh lagi akan ditemui pertanyaan baru: apakah pembangunan ini cukup merata sehingga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat yang seharusnya berhak menikmatinya? Apakah kita yang mungkin tidak mengalami penggusuran dapat merasakan juga apa yang dirasa oleh mereka yang tersisih akibat pembangunan?


Seorang kawan berpose dengan kampung yang digusur, warga setempat, dan ekskavator hijau toska.

Semoga kebahagiaan dapat menjadi milik seluruh warga. Bukan hanya pemerintah, pengunjung taman, para pedagang, dan juga pengelola lahan parkir dadakan. Dan semoga tulisan ini dapat menjadi renungan di awal tahun ini.



Bandung, 3 Januari 2016

Jumat, 06 November 2015

Sisilia Senandung Sang Bapa

Untuk VC

"Sisilia" senandung sang bapa.

Dan ia mati dalam tawanya. Bahagia.

Dengan ingah-ingih mencuri judul dari Komunal.
Bandung, 02.52 WIB

Selasa, 03 November 2015

Apapun Judulnya

Untuk ST.

Kupandang tubuh yang pulas di hadapanku itu. Anarki terpampang di lengannya. Tegas dan keras.

Anjing! Segumpal jiwa berbalut raga di depanku. Ia tidak sedang kelelahan. Hanya saja, ide dan tenaga juga butuh diam, mundur sejenak sebelum menghantam lebih kejam, hingga lebam berdebam.

Ia, yang rajin menggunting dan menempel potongan-potongan hidupnya, menjadi bentuk kehidupan lainnya. Ia, yang melafalkan bait "Tuhan Sudah Mati" dari Also Sprach Zarathustra selepas Al-Fatihah di penghujung tiap rakaat tahajudnya. Ia, yang akan menikammu dengan akustik dan semantik tepat di jantungmu. Matilah. Darahmu akan habis mendidih karenanya.

Anjing!

Hidup, terbentang di antara sudut-sudut ufuk, tak henti mencambuk. Siang penuh perang, berganti malam penuh cinta. Tak henti mendera. Dan ia bukan manusia tanpa luka. Digaraminya bekas-bekas kehidupan agar makin merdu rintihnya. Kau pasti paham, kehidupan tidak boleh berhenti karena luka yang digarami.

Anjing!

Dengarlah lolong anjing di penghujung pesing malammu. Apakah ia sedang memimpikan anjing-anjing bersenandung merdu dalam pulas sesaatnya?

Om.


Bandung, 4.04 WIB

Hujan Dalam (de)Komposisi, 4

Mengapa hujan turun sewarna darah? Di kotaku, pria wanita tua muda bersujud, menagih hujan yang dijanjikan oleh musim. Agaknya dahaga bangsa kali ini cukup parah hingga teh gelas yang biasa dijajakan pengasong di macet Dago tidak mampu membanjurnya lagi. Terlebih, lima hari ini aku tidak melihatnya di perempatan. Barangkali ia ikut bersujud dan menagih. Ia sudah sering dihutangi.

Mengapa hujan turun? Sesekali ia turun, namun hanya sayat tajamnya di wajahku yang diabadikan oleh rintik. Begitu pula asap. Ia turun dari cerobong-cerobong pabrik tukang bikin kefanaan. Kurang pedihkah hidup warga kota dan desa hingga kefanaan harus diproduksi tanpa henti? Para bos, tukang sewa tanah dan kontraktor tidak sadar pekarangan bungalo mereka memerah darah.

Mengapa? Ah, sudahlah. Seorang ayah tergolek di setapak merah darah. Kepalanya digergaji.
Paling tidak, hujan sesekali turun. Sesekali tagihan kami dibayar.

Bandung, 3 November 2015

Senin, 02 November 2015

Sebuah Cerita Tanpa Bentuk Tentang Pikiranku

Perjalanan hidupku adalah perjalanan pikiran. Ya, pikiran. Pikiranku, tanpa mengajak raga dan perbuatanku sudah berjalan jauh. Jurang tergelap di bumi? Puncak-puncak tertinggi? Semua sudah lunas ia datangi, tanpa mengajak siapapun. Ragaku, perbuatanku - aku cemburu.

***

"Rilis itu kebanyakan mikir sampe nggak kerja-kerja anaknya."

Baru tadi seorang teman bercerita tentang komentar mantan dosen pembimbingku tentang aku. Kebetulan teman ini dulu satu bimbingan denganku. Memang banyak alasan yang (bisa dibuat-buat yang) membuatku memutuskan pindah pembimbing dan mengganti topik tugas akhirku. Entah itu tidak cocok dengan topiknya, entah bapak pembimbing yang sulit ditemui, dan lain-lainnya. Namun apa yang Beliau katakan sama sekali tidak salah. Aku sudah hampir menjalankan satu percobaan, namun karena terlalu banyak perhitungan akan semua kendalanya, aku ragu untuk melanjutkannya. Hal ini, beserta puluhan alasan lainnya, akhirnya memicuku untuk menghentikan bimbinganku dengan beliau

catatan: pada akhirnya percobaan ini dijalankan oleh anak bimbingan lain dengan mudahnya.

Apa? Ternyata begitu saja? Akh... keraguan, oh keraguan. Begitu buruknya kacamata yang kau tawarkan untukku memandang masa depan.

Entah sudah berapa orang mengatakan padaku akhir-akhir ini. Kamu terlalu banyak mikir, Lis. Kamu ragu-ragu ya, Lis? Sudahlah, jalani saja dulu. Westalah, lakoni ae, engko sing pengen mbok goleki lak ketemu-ketemu dhewe. Dan entah apa lagi. Nggoleki? Mencari-cari? Sebenarnya apa sih yang ingin dicari oleh keraguanku? Hmmm. Kondisi ideal? Idealisme paling sempurna? Mencarinya saja aku (ehm, lebih tepatnya keraguanku) tidak pernah bisa melakukannya dengan benar. Lalu, apa lagi yang bisa diharapkan dari pencarian ini? Setan alas.

Seorang teman yang lain pernah berbicara padaku. "Hiduplah dengan penuh tenaga. Penuh tindakan agar kamu tidak mati. Sekali berhenti, habis sudah". Tidak sekali ini segala usahaku terhenti karena keraguanku. Berpindah-pindah interest akibat terlalu memikirkan baik-buruknya, menggalaukan mengapa aku harus melakukan semua ini?, stress menghadapi tetek-bengek baik kecil maupun besar dari apa yang aku jalani, sampai berhenti menjalaninya. Semua berpangkal dari keraguan akibat terlalu banyak berpikir. Jadilah aku tanpa tenaga, tanpa tindakan. Mati sudah.

Yah, bagaimana. Aku bisa menciptakan beribu alasan atas sikap terlalu banyak berpikirku ini (Luar biasa kamu, wahai pikiran yang budiman. Sialan). Didikan sedari kecil. Pengalaman di masa sekolah menengah. Terlalu banyaknya pilihan. Terlalu sedikitnya waktu. Pengalaman buruk lainnya lagi. Terlalu sulitnya memilih. Terlalu lemahnya aku. Akh, sudah.

Aku tidak ingin mengalami penolakan lagi. Aku tidak mau denial. Semua sudah terlanjur terjadi. Aku sudah terlanjur berada di titik ini. Puluhan, mungkin ratusan, mungkin lebih, pilihan, kiprah, tanggungjawab, dan mimpi menghampar di depan mata. Semuanya takkan kudapatkan bila aku diam saja, tidak berbuat apa-apa.

Bagi sebagian orang masalahku ini tentu bukan masalah besar. Namun bagiku ini masalah besar. Tindakanku sering terjegal permasalahan ini. Bahkan, aku hampir lupa bagaimana rasanya bertawakkal. Lupa bahwa Sang Maha ada.

I need to move on. Dan sudah terbukti, keraguanku tidak pernah membawaku kemana-mana.

Kata Rene Descartes, cogito ergo sum. Ndasmu a mbah, Aku sudah terlalu banyak berpikir.


Bandung, 2.02 WIB